Tigers Eat Banana

Salman Aditya quotes and aspiration

Keep calm
&
I will come

Wikipedia

Radio Show @ Liberty Bounce Radio


My Tunes

My Books

Thank you and goodnight

ROKOK : Bukan Budaya Tapi Membudaya

Oleh Salman Aditya

Ketika dunia dibuat terperanjat dan tertawa oleh guyonan – guyonan yang terlontaar dari mulut para komedian yang membicarakan dan mengomentari ajaibnya sebuah kejadian nyata seorang balita menghisap rokok seperti layaknya orang dewasa, Banyak balita lain di negeri ini menderita akibat asap rokok. Asap rokok yang dibuat oleh orang tuanya, sanak saudaranya ataupun asap rokok yang dibuat oleh dirinya sendiri. Bagaimana ini semua bisa terjadi.

Video seorang balita yang dengan sangat ahli menghisap rokok layaknya orang dewasa ini telah menjadi fenomena di seluruh dunia dan Indonesia turut dibawanya. Indonesia menjadi bahan ejekan dan hinaan oleh dunia internasional karena kurangnya perhatian orang tua apalagi pemerintah terhadap kesehatan masyarakat. Hal ini tentu membuat pemerintah mejadi panas telinga. Kabar terakhir menyatakan bahwa balita asal Sumatra dalam video itu sekarang sudah berhenti merokok setelah mendapatkan biaya rehabilitasi dari pemerintah Indonesia.

Satu balita sudah berhenti merokok, bagaimana dengan 239.000 anak dibawah usia sepuluh tahun yang berdasarkan laporan VOA Indonesia dalam artikelnya masih sangat aktif merokok. Apakah pemerintah perlu menunggu hingga video – video tentang balita yang merokok itu kembali bermunculan baru pemerintah peduli dan merasa perlu bertindak. Saya rasa pemerintah bukan keledai yang mengulangi kesalahan secara terus menerus tanpa menyadari dengan pasti kesalahan apa yang mereka buat.

Apakah saya harus bangga dengan “prestasi” Jumlah perokok di Indonesia yang menduduki peringkat ketiga di dunia. Sekarang sekitar lebih dari 60 juta penduduk Indonesia merokok. Kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok sendiri tiap tahun terus mengalami pertambahan secara pesat dan mencapai 429.948 orang atau 1.172 orang setiap harinya (Profil Tembakau Indonesia,2007). Pemerintah yang sering beranggapan bahwa rokok itu sangat positif terhadap pendapatan negara selalu menutup mata ketika melihat fakta nyata bahwa kerugian akibat rokok melebihi pendapatan cukai rokok. Tahun 2005 cukai rokok sebesar Rp 32,6 trilyun tetapi yang mencengangkan biaya pengobatan penyakit akibat rokok mencapai lebih dari Rp.167 trilyun atau 5 kali lipat dari cukai rokok itu sendiri.

Beberapa tahun lalu saya sempat berfikir bahwa dibalik ketidakpedulian pemerintah terhadap rokok dan akibatnya bagi kesehatan masyarakat adalah sebuah fakta bahwa pertumbuhan penduduk Negara Indonesia yang terus menerus meroket dan untuk menanggulangi pertumbuhan penduduk yang sulit dikendalikan ini pemerintah membiarkan sebagian besar penduduknya merokok hingga jatuh sakit, menderita dan tersiksa secara perlahan – lahan sampai akhirnya mati. Pengurangan penduduk akibat kematian yang disebabkan oleh rokok ini jumlahnya lebih banyak dari apa yang pernah anda bayangkan sebelumnya dan pemerintah merasa pertumbuhan penduduk pada akhinya dapat diatasi tanpa menggunakan anggaran yang membebani.

Pemerintah Indonesia sendiri akhir-akhir ini saya lihat sudah mulai peduli terhadap kesehatan masyarakatnya. Pembatasan iklan rokok di televisi merupakan salah satu kebijakan yang berhasil diciptakan oleh pemerintah saat ini walaupun tak bisa dipungkiri bahwa iklan rokok masih sangatlah tersebar luas dimana saja di seluruh penjuru Indonesia. Billboard di sepanjang jalan raya baik di kota besar ataupun pelosok kampung, Toko kelontong, Konser musik bahkan kompetisi olahraga.

Rokok sepertinya sudah seperti budaya yang tertanam dengan sangat dalam bagi sebagian besar orang di Indonesia. Sebagian besar mereka menganggap bahwa rokok itu keren, rokok itu menyenangkan dan rokok itu sexy dan macho. Mereka melihat anggapan ini dari film – film yang mereka tonton, dari tokoh yang mereka puja dan juga dari iklan – iklan yang bertebaran secara luas di Indonesia sehingga membuat rokok membudaya. Sebanyak lebih dari 240 miliar batang rokok atau sekitar 658 juta batang rokok per hari di konsumsi oleh masyarakat Indonesia (tempo interaktif,2009). Ini berarti tak kurang dari 330 Miliar rupiah “dibakar” oleh perokok Indonesia setiap harinya.

Padahal pada kenyataanya rokok itu tidak keren, apa yang keren dibalik ketidakberdayaan seorang pria paruh baya yang terduduk lemas dengan selang bantuan nafas di hidungnya dan dengan terengah – engah berusaha bernafas dan mencoba berfikir apa yang membuat dia dahulu merokok. Rokok itu tidak menyenangkan, tidak pernah terfikirkan bahwa mati setelah sebelumnya menderita secara perlahan-lahan adalah sesuatu yang menyenangkan. Rokok itu tidak sexy dan macho, Tidak ada yang sexy dibalik perempuan yang mengalami kerusakan janin dan tidak bisa mempunyai anak akibat rokok dan tidak ada yang macho dari seorang anak laki-laki yang mengabaikan kemungkinan besar akan mati dengan terlebih dahulu berpenyakit dan menderita secara perlahan-lahan.

Film – film dan tokoh – tokoh dari dunia barat yang menjadi referensi bahwa rokok itu keren adalah sebuah stereotype yang sudah ketinggalan zaman. Film – film itu kebanyakan adalah film yang dibuat pada dekada lalu dan tokoh – tokoh yang menjadi acuan mereka sekarang kebanyakan sudah tidak ada karena sudah mati akibat rokok.

Di dunia barat salah satunya di Negara Amerika Serikat budaya rokok sendiri sudah ditinggalkan. Dekade lalu Amerika Serikat sama dengan Indonesia, Rokok adalah budaya, rokok murah dan iklan rokok tersebar luas dimana-mana tetapi semua ini sudah berubah pada dekade ini. Harga rokok melambung tinggi karena kebijakan pajak dosa yang diterapkan sebagian besar negara bagian di Amerika Serikat. Pajak dosa ini adalah pajak yang diberlakukan untuk menaikkan harga rokok dan salah satunya diberlakukan di negara bagian New York. Harga rokok di New York sekarang adalah seratus ribu rupiah ke atas untuk setiap bungkus rokoknya.

Rokok di Amerika dewasa ini juga sudah bukan sesuatu yang membudaya karena kesadaran masyarakatnya akan kesehatan. Iklan rokok sudah dihentikan sama sekali dan perokok malu akan apa yang mereka lakukan dan pada akhirnya berhenti merokok. Para pelaku industri rokok kelas pekerja seperti pekerja pabrik rokok dan petani tembakau juga sudah tidak ingin menabung dosa yang lebih banyak lagi akibat turut serta meracuni dan membunuh masyarakat luas dengan produk yang mereka buat. Masih banyak pekerjaan yang lebih baik ketimbang bekerja memproduksi rokok.

Pemilik industri rokok di Amerika yang sekarang telah dibatasi keberadaanya sebagian ada yang sadar dan beralih ke cabang industri lain sedangkan sebagian yang lain memindahkan industri rokoknya ini ke negara miskin dan berkembang di belahan dunia lain termasuk Indonesia. Mereka tentu tidak peduli akibat dari rokok yang mereka produksi karena bagi mereka kepulan asap rokok dari pembeli yang pada akhirnya akan mati itu adalah uang yang tak ternilai jumlahnya.   

Sebagai seorang yang tidak merokok mungkin dengan munafiknya sisi jahat saya dapat berkata bahwa biarkan saja para perokok – perokok itu menghisap rokoknya jauh dari hadapan saya sehingga saya tidak akan terkena imbasnya dan banyak dari mereka akan mati secara perlahan-lahan. Kematian mereka ini akan sangat baik bagi pemerintah karena pertumbuhan penduduk akan dapat terkendali, lapangan pekerjaan akan terus terjaga dan pendapatan negara dari pajak rokok akan terus dianggap “bertambah”. Kematian mereka para perokok bagi saya sendiri bukan hal yang buruk karena dengan hilangnya mereka bukan tidak mungkin kepadatan, kesemerawutan dan kemacetan di jalan raya kota besar akan dapat teratasi dan jumlah kriminalitas akan berkurang.

Tetapi mungkin saja sisi baik dalam diri saya dapat berkata semoga para perokok aktif itu bisa berhenti merusak dirinya dan tentu saja orang – orang disekitarnya dan secara bersama- sama membangun kembali dunia tanpa asap rokok dan mungkin alkohol.

Pendekatan ‘Common Ground’ Dalam Meningkatkan Toleransi Terhadap Kaum Minoritas

Kompetisi Multimedia Tim Bui

Oleh Salman Aditya

Pendekatan ‘Common Ground’ merupakan cara menangani konflik dan mengenali kemungkinan-kemungkinan yang tidak jauh berbeda dengan pola pikir permusuhan. Merupakan serangkaian prinsip dan praktik yang, ketika diterapkan, menyebabkan pergeseran fundamental dalam hubungan orang dengan konflik –jauh dari pendekatan bermusuhan, melainkan mendekati solusi kooperatif. Pendekatan ‘Common Ground’ menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru untuk hidup berdampingan dengan damai.[1]

Sebelum saya menuliskan lebih banyak lagi tulisan dalam artikel ini yang pertama saya ingin bahwa pembaca memiliki pemahaman yang sama akan arti dari  pendekatan ‘Common Ground’ dan yang kedua arti dari konflik itu sendiri. Dewasa ini sebagian besar masyarakat di Indonesia menganggap bahwa konflik sama dengan kekerasan baik secara langsung maupun tak langsung sedangkan menurut SFCG konflik sendiri berbeda dengan kekerasan dan tidak dapat diklasifikasikan sebagai negatif maupun positif.[1]

Konflik, dengan sendirinya, bukanlah hal yang buruk. Sudah kodratnya dengan adanya perbedaan antar manusia, baik dalam hal agama, politik, suku atau apapun bentuknya. Perbedaan-perbedaan inilah yang memperkaya kita dan dapat menjad akar dari kemajuan damai maupun kekerasan. Menghadapi perbedaan ini secara konstruktif adalah sebuah ketrampilan yang dapat dikembangkan. [1]

Sekarang pertanyaannya yang muncul adalah bagaimana kita menghadapi perbedaan ini secara konstuktif sehingga dapat meningkatkan toleransi terhadap kaum minoritas. Mungkin para ahli – ahli dari bidang ilmu ini telah membeberkan berbagai macam metode dan respon yang menurut mereka ampuh untuk menghadapi atau mengatasi suatu konflik tetapi sekarang apakah semua metode dan respon itu akan selalu efektif menghadapai semua jenis konflik yang ada. Sungguh naïf jika anda menjawab pasti karena di dunia ini tidak ada yang pasti.

Seluruh agama yang dianut umat manusia di dunia ini sebenarnya mengajarkan bagaimana caranya bertoleransi dan melihat keberagaman kaum ini sebagai sesuatu yang harus dijaga. Kaum mayoritas dan minoritas sudah seharusnya seiring sejalan dalam memelihara kesadaran akan prinsip – prinsip dalam agama yang dianutnya masing – masing dan saling menghormati dalam prosesnya karena bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Agar metode dan respon untuk meningkatkan toleransi terhadap kaum minoritas ini dapat berjalan dengan baik yang pertama adalah perlu sekali adanya kesadaran dari dalam diri sendiri untuk melihat perbedaan sebagai sebuah keindahan. Jika pola pikir pemicu permusuhan dalam konflik antar kaum adalah melihat keindahan dari adanya keseragaman dan persamaan suatu kaum bagaimana jika kita mengubahnya menjadi melihat keindahan dari adanya keberagaman banyak kaum.

Bayangkan jika hidup di dunia ini hanya terdiri dari satu ras atau satu kaum saja. Bayangkan juga jika kita hidup seperti apa adanya sekarang terdiri dari banyak ras dan kaum. Mana yang anda pilih ?

 

 

[1]  Pendekatan ‘Common Ground’ Melalui http://www.timbui.com/more/

Sumber Foto : http://klublego.21.forumer.com/a/photo-place_post232-3525.html


autumn-again:


Toughest Place to be… a Binman

It’s as Wilbur says: “We are the same people, the only difference is that he was born over there and I was born here.”

autumn-again:

Toughest Place to be… a Binman

It’s as Wilbur says: “We are the same people, the only difference is that he was born over there and I was born here.”

johnnylynch:

Its not all rubbish on the TV.

Last night I watched Clint Eastwood in ‘True Crime’ which for those that don’t know is about a young man on death Row which I thought was a moving account of a man who found himself in the wrong place at the wrong time and a reporter (Clint) trying to clear his name. Great film but what I didn’t realise it had just set me in a frame of mind that would make the next programme all the more real. I turned over and caught the last 30 minutes of ‘Toughest Place to be’ last night on BBC2 about the the army of semi-destitute binmen who collect rubbish in the Indonesian capital Jakarta. It showed the corruption and the daily battle that these men go through to feed there families and then working throughout the night sorting through the rubbish there paid a few pounds a day to clean up just to earn an extra pound a week from what they can recycle. It had a slant I’ve never seen on a British Documentary Drama and that it took a normal binman ‘Wilbur Ramirez’ (remember that name because your going to hear it again I assure you) from Fulham where he works and put him to work with the binman on the streets of Jakarta for 10 days. I found it compelling viewing, and a real eye opener, In comparison we are so lucky in the UK.

Wilbur the South Londener said that there the hero’s out there but from what I saw with you doing everything they did and more at times especially the personal fight you put up and taking a stand against the war on the corruption then I think Wilbur’s a fricking hero too. In fact I twittered that statement and for a few hours I was been inundated with people saying they thought the same thing. It was a outstanding Docudrama and should win an award. I’m just saying

For those that missed it you can see a short clip by clicking the link below

http://www.bbc.co.uk/programmes/p00nftnn

Only live once, Be a f*ckin risk taker !!
— Salman Aditya